
Penderita asma tentu pernah merasakan sulitnya bernapas ketika serangan asma terjadi. Apa dan bagaimanakah penyakit asma menyerang? Simak bahasannya berikut ini.
Asma adalah suatu penyakit yang ditandai oleh peningkatan kepekaan saluran napas (hiperaktivitas bronkus) terhadap berbagai rangsangan, sehingga saluran napas menyempit.
Rangsangan tersebut dapat menyebabkan sebuah reaksi yang disebabkan oleh alerger, yaitu sesuatu yang asing masuk ke tubuh melalui saluran napas, seperti debu rumah, spora jamur, asap, bulu binatang, dan sebagainya.
Selain dipicu oleh alergen, serangan asma juga dapat terjadi akibat faktor psikis (kejiwaan), dimana emosi seseorang meningkat sehingga menyebabkan stres.
Saluran napas yang menyempit, mengakibatkan penderita asma merasa sesak saat mengeluarkan napas. Hal ini terjadi karena pada serangan asma, otot polos dari saluran pernapasan mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan, akibat peradangan dan adanya pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Pembengkakan dan peradangan tersebut akan memperkecil diameter saluran udara dan menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga agar dapat bernapas.
Menurut anggapan umum, serangan asma hanya muncul pada malam atau pagi hari. Padahal, asma dapat menyerang kapan saja, tergantung pada reaksi tubuh terhadap alerger.
Serangan asma dapat dikenali ketika penderita mengeluarkan bunyi saat bernapas (wheezing, mengi, bengek), batuk, dan rasa sesak di dada. Pada beberapa penderita, serangan dapat berlangsung dalam beberapa menit, beberapa jam, atau bahkan berhari-hari.
Jika asma telah menyerang, harus segera diambil tindakan pengobatan untuk membuka saluran pernapasan yang menyempit. Jika dibiarkan terlalu lama, sesak napas akan menjadi semakin hebat hingga penderita mengalami kesulitan berbicara. Terkadang, beberapa kantong udara di paru-paru (aveoli) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga sekitar organ dada. Hal ini akan membuat penderita asma menjadi cemas, bahkan hingga kulitnya terlihat kebiruan. Kondisi ini merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen dalam paru-parunya sudah demikian sedikit.
Ada dua jenis obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi serangan asma, yaitu yang diminum dan dihirup. Obat asma yang diminum berfungsi untuk menetralkan reaksi alergi, melebarkan saluran pernapasan, atau mengencerkan lendir. Sedangkan obat asma yang dihirup, memiliki fungsi yang sama namun akan lebih efektif karena langsung menuju sasarannya (saluran pernapasan dan paru-paru), bereaksi lebih cepat, dan hanya memerlukan dosis yang kecil.
Serangan asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui. Jika seseorang terserang asma saat berolahraga, sebaiknya dihindari dengan minum obat sebelum melakukan olahraga. Namun, dalam beberapa kasus berolahraga yang cukup dan senantiasa menjaga kebugaran tubuh secara teratur juga dapat mencegah serangan asma atau bahkan menyembuhkan penyakitnya sama sekali.
Rangsangan tersebut dapat menyebabkan sebuah reaksi yang disebabkan oleh alerger, yaitu sesuatu yang asing masuk ke tubuh melalui saluran napas, seperti debu rumah, spora jamur, asap, bulu binatang, dan sebagainya.
Selain dipicu oleh alergen, serangan asma juga dapat terjadi akibat faktor psikis (kejiwaan), dimana emosi seseorang meningkat sehingga menyebabkan stres.
Saluran napas yang menyempit, mengakibatkan penderita asma merasa sesak saat mengeluarkan napas. Hal ini terjadi karena pada serangan asma, otot polos dari saluran pernapasan mengalami kejang dan jaringan yang melapisi saluran udara mengalami pembengkakan, akibat peradangan dan adanya pelepasan lendir ke dalam saluran udara. Pembengkakan dan peradangan tersebut akan memperkecil diameter saluran udara dan menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga agar dapat bernapas.
Menurut anggapan umum, serangan asma hanya muncul pada malam atau pagi hari. Padahal, asma dapat menyerang kapan saja, tergantung pada reaksi tubuh terhadap alerger.
Serangan asma dapat dikenali ketika penderita mengeluarkan bunyi saat bernapas (wheezing, mengi, bengek), batuk, dan rasa sesak di dada. Pada beberapa penderita, serangan dapat berlangsung dalam beberapa menit, beberapa jam, atau bahkan berhari-hari.
Jika asma telah menyerang, harus segera diambil tindakan pengobatan untuk membuka saluran pernapasan yang menyempit. Jika dibiarkan terlalu lama, sesak napas akan menjadi semakin hebat hingga penderita mengalami kesulitan berbicara. Terkadang, beberapa kantong udara di paru-paru (aveoli) bisa pecah dan menyebabkan udara terkumpul di dalam rongga sekitar organ dada. Hal ini akan membuat penderita asma menjadi cemas, bahkan hingga kulitnya terlihat kebiruan. Kondisi ini merupakan pertanda bahwa persediaan oksigen dalam paru-parunya sudah demikian sedikit.
Ada dua jenis obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi serangan asma, yaitu yang diminum dan dihirup. Obat asma yang diminum berfungsi untuk menetralkan reaksi alergi, melebarkan saluran pernapasan, atau mengencerkan lendir. Sedangkan obat asma yang dihirup, memiliki fungsi yang sama namun akan lebih efektif karena langsung menuju sasarannya (saluran pernapasan dan paru-paru), bereaksi lebih cepat, dan hanya memerlukan dosis yang kecil.
Serangan asma dapat dicegah jika faktor pemicunya diketahui. Jika seseorang terserang asma saat berolahraga, sebaiknya dihindari dengan minum obat sebelum melakukan olahraga. Namun, dalam beberapa kasus berolahraga yang cukup dan senantiasa menjaga kebugaran tubuh secara teratur juga dapat mencegah serangan asma atau bahkan menyembuhkan penyakitnya sama sekali.
No comments:
Post a Comment