Sunday, July 5, 2009

Khasiat Lamtoro

Lamtoro yang memiliki nama latin Leucaena glauca merupakan jenis tanaman yang mudah kita temui di sekitar lingkungan kita. Biji hijau mungilnya sering digunakan sebagai bahan pelengkap untuk membuat makanan. Salah satunya adalah botok. Kombinasi dari campuran kelapa parut, tahu, tempe, kemangi, ikan teri, dan lamtoro ini menyajikan sebuah cita rasa masakan asli Indonesia yang lezat dan bergizi.


Menanam Lamtoro ini cukup mudah. Suku polong-polongan ini dapat tumbuh subur di daerah ketinggian 1-1500 m dpl. Tanaman ini juga tidak terkait dengan musim karena dapat tumbuh pada segala musim asalkan masih berkisar pada suhu 25-30 o C. Cara menanamnya pun juga cukup mudah yaitu dengan menyebar bijinya, lalu disiram dengan air secukupnya, kemudian dijaga kelembaban tanahnya, dan terakhir dipupuk dengan pupuk organik. Sehingga lamtoro ini sangat cocok apabila digunakan sebagai tanaman peliharaan di sekitar rumah. Khasiatnya tidak hanya sebagai tambahan bahan makanan, melainkan juga dapat bemanfaat sebagai obat-obatan beberapa jenis penyakit. Nah, pertanyaannya lamtoro berkhasiat menyembuhkan penyakit apa saja?

Berdasarkan penelitian Prof Hembing Wijayakusuma, dijelaskan bahwasannya lamtoro dapat menyembuhkan beberapa penyakit, seperti diabetes, susah tidur, radang ginjal, disentri, meningkatkan gairah seksualitas, cacingan, peluruh haid, herpes zoster, luka terpukul, bisul, eksim, patah tulang, tertusuk kayu atau bambu, dan pembengkakan. Dalam hal ini, tanaman lamtoro tidak hanya bermanfaat pada bijinya saja (seperti yang banyak diketahui oleh orang awam), namun semua bagian tanaman ini sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Penggunaan secara tepat akan berdampak pada percepatan kesembuhan penyakit ini, begitupun sebaliknya.
Untuk menyembuhkan penyakit diabetes misalnya, satu sendok teh bubuk biji tanaman lamtoro diseduh dengan ½ cangkir air panas. Hasil seduhan ini diminum selagi masih hangat setengah jam sebanyak 2-3 kali sehari. Sedangkan untuk menyembuhkan cacingan, bengkak, dan radang ginjal 3-5 gram serbuk biji tanaman lamtoro kering direbus dengan 1 cangkir air panas lalu minum air rebusan atau seduhannya selama 3 kali sehari dengan dosis yang sama.

Pada bagian akar lamtoro pun memiliki khasiat yang tak kalah hebatnya dengan bagian biji. Di salah satu bagian tanaman ini, seringkali dimanfaatkan orang sebagai obat peluruh haid. Metode pengobatan yang relatif tradisional ini menawarkan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh metode pengobatan modern. Manakala obat modern mengandung efek samping dari unsur kimiawi buatan yang sangat kuat, maka dari tanaman lamtoro ini efek samping masih rendah karena bersifat alami dan belum tersentuh unsur buatan manusia.

Jika diteliti lebih lanjut, lamtoro juga bermanfaat sebagai penyubur tanah, karena memiliki kemampuan untuk mengikat gas nitrogen pada akarnya apabila bersimbiosis dengan bakteri tanah rhizobia. Seperti yang banyak diketahui bahwa komposisi gas yang berada di atmosfer didominasi oleh gas nitrogen (N2), namun nitrogen dalam bentuk gas ini tidak dapat digunakan oleh tanaman, sehingga harus diubah dulu dalam bentuk yang tersedia untuk tanaman. Penggabungan inilah yang menyediakan unsur nitrogen bagi tanaman secara ramah lingkungan. Ketersediaan nitrogen yang cukup akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman itu.

Bahkan, tanaman yang berasa pahit dan agak netral ini tak hanya bermanfaat bagi manusia saja. Tanaman Lamtoro ini juga berkhasiat sebagai pakan ternak, khususnya pada tipe hewan memamah biak. Terutama sekali pada daunnya yang mengandung protein tinggi, tingkat kecernaannya tinggi (60-70 %), dan juga mengandung mineral yang tinggi. Jadi secara tidak langsung, fungsi lamtoro ini akan mempercepat proses penggemukan dan pemadatan daging hewan ternak sendiri yang nantinya akan berpengaruh pada kualitas daging ternak itu sendiri. Kualitas daging yang bagus akan berpengaruh pada kualitas dan asupan gizi yang masuk ke tubuh manusia.

Di Indonesia sendiri, varietas yang banyak dibudidayakan yaitu Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala). Jenis lamtoro ini tidak tahan terhadap kutu loncat. Sehingga pada tahun 80-an, tanaman ini mulai diokulasi dengan jenis Leucaena diversifolia yang lebih tahan terhadap kutu loncat. Walaupun keberhasilan okulasi tersebut sangat tinggi, tetapi tanaman hasil okulasi yang tahan kutu loncat relatif rendah mungkin masih ada pengaruh dari batang bawah. Namun setidaknya cara ini diharapkan dapat meminimalisir dan memperlama daya tahan lamtoro tersebut terhadap serangan hama kutu loncat.



Sumber : Oase

No comments:

Post a Comment