Thursday, June 25, 2009

Hipertensi

Istilah Tekanan darah tinggi atau hipertensi sepertinya sudah memasyarakat di telinga kita. Secara sederhana, hipertensi diartikan sebagai keadaan dimana tekanan darah meningkat. Tekanan darah merupakan ukuran kekuatan darah saat menekan dinding pembuluh darah arteri, pembuluh nadi yang menghantarkan darah ke seluruh tubuh.


Hipertensi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu yang disebut hipertensi primer (essensial) dan sekunder. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan oleh gangguan kesehatan lain, misalnya kelainan pembuluh darah, gangguan ginjal, gangguan kelenjar tiroid, penyakit kelenjar adrenal, dan lain sebagainya. Sedangkan hipertensi primer adalah hipertensi yang penyebab pastinya masih belum dapat diketahui. Kurang lebih 10% penderita hipertensi tergolong hipertensi sekunder, sebagian besar yaitu sekitar 90% tergolong hipertensi primer (essensial).

Jika tidak ditangani dengan baik hipertensi dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan yang serius, seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke, dementia (pikun), sampai kematian. Saking seringnya hipertensi menjadi biang gangguan kesehatan yang fatal, dia kerap disebut pembunuh yang diam-diam (silent killer).


Berapa batas tekanan darah yang normal? Menurut Badan Kesehatan Dunia, WHO, batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg, sedangkan bila lebih dari 140/90 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Namun buat orang Indonesia, banyak dokter berpendapat tekanan darah yang ideal adalah sekitar 110-120/80-90 mmHg. Batasan ini berlaku bagi orang dewasa diatas 18 tahun.

Besarnya tekanan darah selalu dinyatakan dengan dua angka. Angka yang pertama menyatakan tekanan sistolik, yaitu tekanan yang dialami dinding pembuluh darah ketika darah mengalir saat jantung memompa darah keluar dari jantung. Angka yang kedua disebut tekanan diastolik, adalah angka yang menunjukkan besarnya tekanan yang dialami dinding pembuluh darah ketika darah mengalir masuk kembali ke dalam jantung.

Tekanan darah yang tinggi ketika diukur pada satu waktu tertentu belum dapat dipastikan menjadi tanda seseorang menderita hipertensi. Banyak faktor yang dapat menyebabkan tekanan darah naik dan turun secara tiba-tiba. Jadi, seseorang tidak dapat dikatakan menderita tekanan darah tinggi atau hipertensi hanya dari satu kali pengukuran. Untuk meyakinkan apakah menderita hipertensi atau tidak, harus melalui pemeriksaan tekanan darah beberapa kali dan pada waktu yang berbeda-beda.

Faktor-Faktor Penyebab Tekanan Darah Tinggi
Banyak faktor yang dianggap dapat memperbesar risiko menderita hipertensi. Salah satu diantaranya adalah faktor keturunan. Pada 70-80% kasus hipertensi essensial, didapatkan riwayat hipertensi di dalam keluarga. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka kemungkinan menderita hipertensi menjadi lebih besar. Fakta ini mendukung dugaan bahwa faktor keturunan mempunyai peran terjadinya hipertensi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor lain yang mendorong terjadinya hipertensi antara lain stres, kegemukan (obesitas), pola makan yang tidak sehat, merokok dan sering minum minuman beralkohol. Banyak penelitian yang sudah membuktikan hal ini. Pola hidup sehat tentu menjadi "obat" paling mujarab bagi penderita hipertensi. Dengan pola hidup sehat, pun kita dapat mencegah aneka penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah tinggi.


Mengapa hipertensi (tekanan darah tinggi) tidak baik bagi tubuh kita?
Hipertensi memiliki banyak cara untuk merusak badan. Pertama, hipertensi dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Selain itu, hipertensi yang dibiarkan terlalu lama dan tidak pernah diperhatikan akan melemahkan otot-otot jantung. Hipertensi juga memberikan efek buruk kepada organ tubuh lain, seperti ginjal. Hipertensi dalam jangka waktu yang lama akan merusak ginjal. Demikian juga dengan pembuluh darah di sekitar mata, sehingga seorang penderita biasanya akan mengalami perubahan penglihatan, atau bahkan kebutaan, bila tidak mempedulikan tekanan darah tingginya.


Bagaimana cara mencegah tekanan darah tinggi?
Mereka yang memiliki gaya hidup sehat memiliki risiko hipertensi lebih rendah untuk terkena hipertensi. Gaya hidup sehat yang dimaksud adalah berolahraga secara teratur, menjalankan diet sehat yang banyak mengandung buah, sayur, polong-polongan, dan protein, serta yang sedikit mengandung lemak jenuh.

Hindari stres dan suasana tegang. Bila Anda tidak dapat menghindari hal tersebut, cari cara untuk mengendalikan stres dan ketegangan Anda.

Bila keluarga Anda memiliki sejarah hipertensi, berhati-hatilah terhadap gaya hidup Anda, walaupun tekanan darah Anda masih tergolong normal.


Bagaimana pengaruh makanan terhadap hipertensi?
Makanan yang dapat menaikkan tekanan darah adalah yang mengandung garam. Sementara minuman yang berpengaruh buruk terhadap tekanan darah adalah alkohol. Meminum dua gelas minuman beralkohol dalam sehari akan memperbesar risiko hipertensi sebanyak 1,5 hingga 2 kali.

Ada pula jenis makanan yang dapat menormalkan tekanan darah. Para penderita hipertensi dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kaya kalsium, magnesium, dan potasium. Unsur-unsur itu bisa didapatkan di sayuran berdaun hijau, misalnya bayam. Selain itu, penelitian menunjukkan kalau coklat hitam pun dapat menurunkan tekanan darah, tetapi harus yang mengandung minimal 70% kokoa yang tidak diproses. Jadi, jangan lupa untuk membaca label coklat hitam sebelum Anda membelinya.





No comments:

Post a Comment